kategori

Jumat, 11 Maret 2011

'PERI KECIL YANG MALANG"

Jika ada hati yang menangis saat ini, maka hati itu adalah hatiku. Peri kecil yang selalu bermimpi akan kehadiran dua sayap. sayap-sayap yang dulu pernah bertengger di bahunya yang kokoh. sayap-sayap yang membawanya terbang kemanapun dia suka, sayap-sayap yang setiap kali dia kepakkan menebar bau harum bunga. bintang-bintang kecilpun bermunculan memberi rona dengan warna-warna indahnya.

Di sudut taman peri kecil hanya bisa menangis. hijaunya rumput tak lagi terlihat indah dimatanya, harumnya mawar seakan menjadi pengganggu di indra penciumannya. tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap heran, sang peri terus saja terisak dalam tangisnya seakan tidak ada yang lain selain dia di taman itu. Bersama  percikan air sungai yang mengalir melewati taman nan indah itu, peri kecil memutar kembali video yang tersimpan rapi di ingatannya. Tangan-tangan mungilnya dengan lincah mengukir semua cerita yang pernah di buatnya di atas bentangan birunya langit.

Peri kecil larut dalam kisahnya dan hanya dia yang mengerti seperti apa rasanya setiap kisah yang dilakoninya. Meski air mata enggan berhenti mengalir dari pelupuk matanya, sesungging senyum tetap bermain di bibir manisnya. akal sehat seakan menentang rasa yang bersemayam di hatinya, nalar seakan tidak rela rasa terus menguasai qalbunya. rasa yang memaksa mata untuk terus menagis karena rasa itu menyimpan sakit yang bersembunyi di balik indahnya tabir cinta. 

kalut yang menyelubungi jiwanya ternyata mampu melampaui benteng sabar yang selama ini melindungi dirinya. sabar yang membuat dia tak pernah mengutuk atas hidup yang telah di anugrahkan tuhan kepadanya. bersama sayap-sayap indahnya dia terbang menebarkan benih-benih kegembiraan untuk di nikmati oleh semua orang. Di bangunnya taman indah yang kini hanya menjadi istana yang tak berarti baginya. 

Hari demi hari sang peri menikmati indahnya hidup bersama sayap-sayap yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi. kebahagiaan membuat peri kecil lupa akan sebuah kalimat..."TAK ADA YANG ABADI". Hingga pada suatu hari peri kecil terkejut dengan apa yang terjadi, satu sayapnya patah tanpa sebab yang berarti. Sang peri memang sempat meneteskan air mata, tapi itu hanya sesaat karena ternyata dia masih mampu untuk terbang meski hanya dengan satu sayap. Namun hari ini, peri kecil benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, sakit yang melebihi kapasitas tenaga yang mampu membuat dia sanggup untuk berdiri tegak. Peri kecil terjatuh ketika satu sayap yang menjadi tumpuannya patah dan terbang bersama angin meninggalkan dirinya. Dan kini sang peri merintih kesakitan di istana yang sangat indah. Istana masa depan yang dia buat dengan penuh cinta bersama sayap-sayap yang kini telah pergi meninggalkannya dan membiarkan dia terjebak dalam palung sepi yang sangat dalam. Peri kecil tak pernah mengira akan seperti ini jadinya bahkan dalam  mimpipun tak pernah terbayangkan olehnya.