"Da, Hp mu bunyi tuch", teriak Aini dari dalam kamar.
"Setengah berlari gadis yang biasa disapa Ida masuk ke kamarnya dan dan meraih Hp nya. Terpancar kegembiraan dari wajah Ida, senyumnya merekah ketika menjawab panggilan itu. Ntah siapa yang jelas orang itu pasti sangat spesial di hatinya".
"Ida apa kabar???sehat???, suara itu terdengar sangat merdu di telinga Ida. Dalam sedihpun Ida pasti selalu bisa tersenyum jika mendengar suara itu. Suara yang mengantarkan tetesan embun bagi jiwa-jiwa yang haus akan cinta".
"Ida sehat kok bu, ibu juga sehatkan???ayah gimana, pada sehat semuakan???". Ida balik bertanya.
"Dari seberang sana, terdengar suara wanita setengah baya dengan lembut menjawab pertanyaan anaknya bungsunya yang datang secara bertubi-tubi.
"Iya, ibu sehat, ayah juga". "Da, gimana udah punya temen yang spesial belom???Ibu pengen ngomong dunk sekali-sekali sama temenmu itu. Ya...cuma sekedar pengen dengar suaranya ja". Pinta wanita tiga anak itu.
"Hehehehe...."mendadak tawa Ida meledak.
"Ibu kayak g' tau Ida ja, kalau memang sudah ada pasti Ida bilang kok".Jawab Ida dengan candanya.
"Da, Ibu serius nak, apa belom ada laki-laki yang kamu suka???". Ibu Ida kembali bertanya.
"Sejenak gadis yang di tanya itu terdiam, tidak tau apa yang akan dia jawab. Meski tidak melihat seperti apa wajah ibunya saat itu, tapi dia yakin dari nada bicara ibunya memang sedang serius berbicara dengannnya. Wajah ceria Ida seketika berubah murung, tawa yang tadi keluar bebas dari bibir manisnya, kini hilang begitu saja. Tak ada jawaban yang Ida berikan kepada Ibunya, lidahnya terasa berat untuk di gerakkan".
"Da, kok diam nak???apa belom ada laki-laki yang kamu suka???, wanita itu kembali bertanya.
"Bu, kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu???". Ida balik bertanya.
"Ibu hanya tidak ingin kamu seperti kakakmu nak. Dulu, ketika kakakmu seusiamu, dia begitu menyepelekan masalah pasangan hidup, dan sekarang kakakmu hanya bisa tersenyum pahit melihat orang-orang yang seumurannya sudah di panggil ayah dan ibu. Ibu tidak ingin kamu mengalami hal yang sama. Cukuplah satu anak gadis ibu yang harus memikul sakit itu, ibu tidak akan sanggup melihat anak-anak ibu kecewa". Jelas ibu Ida panjang lebar.
"Di hati Ida hanya ada dua laki-laki yang sangat Ida cintai bu, jujur Ida".
"Senyum merekah dari bibir wanita setengah baya itu, bahagia yang dia rasakan saat ini, tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata, hanya desah nafas panjang yang mengisyaratkan betapa hatinya sangat lega mendengar jawaban anak gadisnya itu. Jawaban yang selama ini dia nanti-nantikan".
"Siapa nak???, ibu pengen tau". Pinta Ibu Ida.
"Laki-laki yang Ida cintai saat ini hanya Ayah dan abang bu. Jikapun ada orang lain selain mereka berdua di hati Ida, itu mungkin adalah laki-laki yang sudah menjadi suami Ida bu". Jawab Ida tanpa expresi.
" Tak sepatah katapun yang terdengar di telinga Ida, hanya suara isak tangis yang menyayat hati menghiasi indra pendengarannya itu. Ida berdiri dari kasurnya, dari jendela, diliatnya siang yang begitu cerah, panasnya matahari yang menyengat seakan menambah panas dihati Ida. Betapa tidak, jangankan untuk membuat ibunya menangis, melihat ibunya sedih saja, sudah cukup membuat Ida sakit".
"Bu, maafkan Ida...". Ida tidak sanggup menahan air matanya.
"Tapi yang diajak bicara tak kunjung mengeluarka kata-kata, yang ada malah isak tangis itu semakin menjadi-jadi. Ida panik, suaranya mulai serak memanggil ibunya. Hancur hatinya mendengar tangisan itu, begitu menyakitikah kata-katanya barusan. Dalam hati Ida mengutuk bibir yang telah berkata jujur, kejujuran yang ternyata justru menyakiti hati ibunya".
"Bu, tolong maafin Ida bu, mungkin ibu kecewa dengan jawaban Ida, tapi tolong mengerti Ida bu. Ida pernah memberikan cinta kepada orang lain selain cinta Ida kepada dua orang laki-laki yang sangat Ida hormati dalam hidup Ida. Ida berharap cinta yang Ida dapatkan akan indah adanya, tapi apa yang terjadi bu, cinta itu malah menambah quota luka di hati Ida. Luka itu memang hanya sebentar Ida rasakan, tapi bekas yang ditimbulkan luka itu cukup membuat Ida trouma. Ida tidak tau sampai kapan rasa itu akan hilang. Tidak pernah Ida rasakan cinta yang sempurna dari laki-laki manapun selain cinta yang ayah dan abang berikan kepada Ida. Semakin sering ida menyakiti keduanya, malah semakin sempurna keduanya mengalirkan cintanya di hidup Ida. Tidak ada laki-laki yang menurut Ida pantas untuk Ida cintai kecuali hanya untuk mereka berdua bu, ayah dan abang". Ida mencoba menjelaskan.
"Ida", hanya itu yang terdengar.
"Bu, jangan menagis lagi, Ida tidak tahan bu, Ida sayang sama ibu, Ida kangen Ibu". Rintih Ida.
" Maafin ibu nak, sungguh, Ibu menangis bukan karena ibu kecewa, tapi rasanya kebahagiaan ibu meledak, ingin rasanya ibu berteriak, betapa beruntungnya ibu di anugrahi anak-anak yang penuh cinta seperti kalian".
"Bu, yakinlah...Ida akan mendapatkan apa yang Ida butuhkan, dan kakak, kakak pasti akan menemukan apa yang dia perlukan. Biarkan hidup berjalan dengan sendirinya, karena sekuat apapun kita berusaha, jika waktu belum mengizinkan, maka keinginan hanya akan tinggal keinginan. Keinginan hanyalah hasrat yang selalu ingin di penuhi bagi setiap insan yang bernyawa. Tapi apa ada yang bisa menjamin, bahwa keinginan itulah sumber kebahagiaan kita????. Jawabannya adalah tidak bu, terkadang apa yang kita inginkan justru menjadi kunci penderitaan kita. Biarkan waktu yang menjawab semua kebutuhan kita, karena waktu itu tidak akan lama lagi jika kita mau sedikit bersabar".
"Maafin Ibu nak jika pertanyaan Ibu menyakitimu, Ibu janji, Ibu tidak akan mempertanyakan hal ini lagi, kecuali kamu sendiri yang akan memberitahu Ibu".
"Makasih bu, Ida sayang Ibu".
"Ibu juga sayang kamu Da, kamu baik-baik ya sayang di sana, assalamualaikum". Wanita itu mengakhiri telponnya.
"Tertunduk lesu, Ida menjawab salam Ibunya. Energinya seakan terkuras habis, badannya seperti tak bertenaga, perasaannya tak menentu. Pikirannya ntah kemana, semua memori yang telah dia kubur dalam-dalam kembali terbayang di pelupuk matanya. Di atas kasurnya Ida menangis, melampiaskan semua gundah hati yang kini mengganggunya. Sesaat di luar kesadarannya Idapun tertidur dengan pulasnya, sejenak melupakan semua yang mengusik hatinya.